Home / SISWA / Cara Membedakan Minat dan Bakat pada Siswa

Cara Membedakan Minat dan Bakat pada Siswa

Cara Membedakan Minat dan Bakat pada Siswa

Ketahui apa saja strategi yang bisa diterapkan untuk memetakan dan mengembangkan bakat dan minat peserta didik di sekolah.

Di sisi lain, terkadang kita sendiri belum sepenuhnya mengetahui bahwa minat dan bakat sebenarnya memiliki dua arti yang yang berbeda. Apa bedanya serta bagaimana cara menentukan minat dan bakat siswa? Berikut pembahasannya, Guru Pintar.

Pentingnya Mengenali Bakat dan Minat

image article
Foto oleh Kampus Production dari Pexels

Kita perlu menyadari bahwa minat dan bakat dapat memengaruhi kesuksesan seseorang, termasuk siswa-siswi kita, di masa depan. Pencarian minat dan bakat di usia dewasa diyakini lebih sulit karena, sebagaimana kita alami sendiri, orang dewasa dihadapkan pada tuntutan hidup yang kompleks, perasaan ragu dan takut, atau yang lainnya. Oleh karena itu, upaya untuk mengidentifikasi bakat peserta didik perlu dilakukan sedini mungkin.

Siswa yang sudah mengetahui minat dan bakatnya dapat memahami potensi diri, kelebihan, serta kelemahannya. Bahkan, siswa yang sudah mengetahui minat dan bakatnya dapat menentukan bagaimana ia akan melanjutkan pendidikan atau memilih kariernya di masa depan. Siswa seperti ini cenderung lebih terlibat dalam proses belajar, mengerjakan tugas dengan baik tanpa merasa terbebani, dan secara umum berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Perbedaan Bakat dan Minat

image article
Foto oleh Yan Krukov dari Pexels

Akan tetapi, sekali lagi, sebagai guru terkadang kita sendiri belum sepenuhnya mengetahui bahwa minat dan bakat sebenarnya memiliki dua arti yang yang berbeda. Lantas apa perbedaan bakat dan minat itu sendiri?

Minat

Minat adalah perasaan tertarik yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Ketertarikan ini menimbulkan keinginan dan dorongan yang kuat untuk untuk melakukan suatu hal. Setiap siswa pasti tumbuh dan berkembang dengan memiliki minat atau ketertarikan terhadap suatu hal tertentu. Ketika merasa senang, puas, dan tidak ada rasa terbebani saat mengerjakan sesuatu, dapat dikatakan siswa tersebut sedang mengerjakan atau melakukan aktivitas yang diminatinya. Minat biasanya tumbuh secara alamiah berdasarkan pengaruh lingkungannya, tetapi dibutuhkan stimulus yang kuat agar seseorang dapat menghasilkan prestasi yang maksimal. Jenis-jenis minat sendiri ada dua:

1. Minat Vokasional

Minat vokasional adalah minat siswa terhadap bidang-bidang pekerjaan. Minat vokasional dibagi lagi menjadi minat profesional, komersial, dan kegiatan fisik. Contoh minat profesional adalah minat pada bidang keilmuan, seni, dan kesejahteraan sosial. Minat komersial antara lain minat pada bidang pekerjaan, akuntansi, dunia usaha, periklanan, kesekretariatan, dan jual beli. Sedangkan minat kegiatan fisik yaitu minat pada bidang mekanik dan kegiatan luar ruangan yang lainnya.

2. Minat Avokasional

Minat avokasional adalah minat terhadap suatu hal yang dilakukan untuk memperoleh kepuasan atau dilakukan atas dasar hobi. Contoh minat avokasional, antara lain petualangan, hiburan, apresiasi, dan ketelitian.

Siswa yang sudah mengetahui dan mengembangkan minat atau hal yang disukainya secara tidak langsung juga dapat menyalurkan bakat yang dimilikinya. Penelusuran minat bakat siswa juga dapat kita lakukan dengan mengamati antusiasme, ketahanan, perasaan, dan sikap siswa terhadap sesuatu yang diminatinya.

Bakat

Sementara itu, bakat adalah suatu keahlian atau kepandaian bawaan yang dimiliki seseorang sejak ia dilahirkan. Bakat menuntun seseorang agar dapat menemukan suatu hal yang dikuasainya. Seseorang yang memiliki bakat terhadap suatu hal biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam mempelajari hal tersebut dibandingkan seseorang yang hanya memiliki minat saja. Pada umumnya bakat tidak membutuhkan stimulus, yang diperlukan hanyalah usaha untuk mengasahnya agar bakat tersebut lebih menonjol.

Bakat yang ada dalam diri seseorang tidak akan pernah hilang dari dirinya karena bakat merupakan potensi diri yang dimiliki sejak lahir. Namun jika tidak diasah atau disalurkan dengan benar, bakat dapat mengalami penurunan kualitas. Seseorang yang terus menyalurkan serta mengembangkan bakatnya sejak kecil diyakini berpeluang untuk menjadi profesional di bidangnya. Sebaliknya, bakat yang tidak disalurkan atau dikembangkan dengan baik akan sulit berkembang saat dewasa, bahkan akan menjadi bakat yang terpendam saja. Seperti minat, bakat juga dibagi menjadi dua:

1. Bakat Umum

Bakat umum adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh sebagian besar orang, yang secara alami atau secara umum dianggap sebagai kemampuan yang bermanfaat dalam berbagai konteks. Bakat umum sering kali dianggap sebagai keterampilan lintas disiplin yang berlaku dalam berbagai konteks kehidupan, baik pribadi maupun profesional. Contoh bakat umum antara lain kemampuan komunikasi, kreativitas, kemampuan analitis, kemampuan memecahkan masalah, dan lain-lain.

2. Bakat Khusus

Bakat khusus adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang dalam bidang atau disiplin tertentu. Bakat khusus sering kali membutuhkan dedikasi, latihan, dan pengembangan yang berkelanjutan untuk mencapai potensi terbaiknya. Kemampuan atau prestasi seseorang yang memiliki bakat khusus di suatu area yang spesifik biasanya sangat mengesankan atau unggul, melebihi rata-rata orang lain di bidang yang sama. Oleh karenanya, seseorang dengan bakat khusus berpeluang untuk memiliki karier di bidang yang terkait dengan bakat tersebut. Contoh bakat khusus antara lain bakat musikal, olahraga, akademik, seni peran, dan lain sebagainya.

Menentukan Bakat dan Minat Siswa

cara menentukan minat dan bakat siswa
Photo by Drew Dizzy Graham on Unsplash

Dari contoh minat dan bakat siswa di atas, kita sudah mendapatkan gambaran seperti apa perbedaan bakat dan minat. Siswa sendiri masih memerlukan bantuan, baik dari guru, orang tua, maupun lingkungan sekitar, agar dapat mengidentifikasi bakat dan minat yang dimilikinya. Oleh karena itu, eksplorasi potensi peserta didik diperlukan guna mengetahui minat dan bakat yang dimiliki.

Lantas bagaimana cara menentukan minat dan bakat siswa? Berikut beberapa pendekatan berbeda yang dapat kita terapkan, Guru Pintar.

1. Asesmen Non Kognitif

Asesmen non kognitif adalah jenis asesmen yang digunakan untuk mengevaluasi aspek-aspek nonkognitif atau psikososial siswa, yang meliputi sikap, kepribadian, keterampilan sosial, emosi, motivasi, dan nilai yang diyakininya. Asesmen non kognitif dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang siswa, terutama karakteristik psikologis dan perilaku, yang berkontribusi pada pengembangan pribadi dan kesejahteraannya.

Asesmen non kognitif sering kali melibatkan instrumen seperti kuesioner, wawancara, atau observasi, untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Observasi dapat dilakukan di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, atau proyek kelompok. Sedangkan wawancara dapat digunakan untuk memberikan kesempatan bagi siswa berbicara tentang hal-hal yang disukai atau mampu dikerjakannya dengan lebih baik.

2. Tes Bakat dan Minat Siswa

Tes bakat dan minat siswa mungkin diperlukan untuk memetakan potensi peserta didik. Ada beberapa tes khusus yang dirancang untuk mengukur minat dan bakat siswa. Misalnya, Tes Gaya Belajar dapat digunakan untuk mengenali cara belajar yang paling efektif dan efisien bagi setiap individu siswa. Tes Kecerdasan Majemuk dapat membantu mengidentifikasi kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh siswa.

Selain kedua tes tersebut, masih ada Tes RIASEC atau Tes Jurusan yang digunakan untuk menemukan jurusan kuliah yang sesuai dengan minat bakat dan kemampuan siswa. Guru Pintar juga dapat memanfaatkan Tes DISC atau Tes Kepribadian untuk membantu siswa agar lebih memahami kepribadiannya masing-masing.


Sumber: ditsmp.kemdikbud.go.id

Tes bakat minat Aku Pintar di atas telah direkomendasikan oleh Kemdikbud. Di samping itu, tes bakat dan minat siswa dapat memberikan panduan yang objektif tentang minat dan bakat tiap-tiap siswa. Selanjutnya, hasil tes dapat kita jadikan pedoman untuk merancang berbagai kegiatan di sekolah guna mengasah dan mengembangkan potensi peserta didik.

3. Kegiatan Ekstrakurikuler

Potensi peserta didik dapat dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan seperti klub olahraga, klub seni, orkestra sekolah, paduan suara, atau klub sains. Siswa yang percaya diri dengan potensinya akan cenderung lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Sebaliknya, beragam kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah dapat membantu siswa menemukan area yang dirasa menarik atau berkompeten.

4. Konseling Siswa

Penting untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh siswa tentang minat dan bakatnya sendiri melalui kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Siswa mungkin telah mengembangkan minat tertentu di luar sekolah, entah hobi atau kegiatan yang lain. Penelusuran minat bakat melalui kegiatan bimbingan dan konseling seperti ini dapat menunjukkan bahwa kita menghargai apa yang siswa katakan tentang dirinya sendiri.

5. Konsultasi dengan Wali Murid

Penelusuran minat bakat siswa juga memerlukan kehadiran orang tua. Melalui wali murid, kita dapat memperoleh wawasan tambahan. Orang tua siswa mungkin baru menyadari minat dan bakat anak yang sebenarnya sudah tampak sejak lama atau, sebaliknya, justru telah memperhatikan aspek-aspek tertentu yang mungkin tak sengaja kita lewatkan.

Ada berbagai cara yang bisa kita gunakan untuk mengetahui dan memetakan potensi peserta didik. Sebagai guru yang baik, bukankah kita akan selalu berusaha mendorong minat dan bakat siswa agar dapat berkembang, Guru Pintar? Adalah harapan dan kebahagiaan tersendiri bagi kita bila siswa mampu meraih prestasi yang diinginkannya.

About Daeng SwaraPendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Poker gratuit poker en ligne gratuit jouer au poker

Content Poker Pop PotBot Poker Suite GoodGame Poker Informations supplémentaires ...

https://swarapendidikan.or.id/